Di tengah arus perubahan zaman dan tantangan globalisasi, Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, selalu dituntut untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama. Moderasi beragama, sebagai salah satu konsep utama dalam kehidupan berbangsa, bukan hanya menjadi seruan, tetapi juga menjadi upaya nyata dalam menciptakan kebersamaan yang berdampak luas bagi kemajuan sosial dan pembangunan bangsa.
Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama harus dijadikan sebagai pilar utama dalam mempererat kebersamaan di tengah perbedaan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Presiden ke 6 Joko Widodo, “Indonesia adalah negara yang besar karena keberagamannya, dan kita harus menjaga kebersamaan ini melalui moderasi beragama. Moderasi adalah cara kita untuk menjaga Indonesia tetap utuh dan berdamai, meski berbeda-beda agama, suku, dan budaya.” Kata-kata Presiden ke 6 Jokowi ini menegaskan pentingnya mengedepankan prinsip moderasi dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kebersamaan ini, menurut Jokowi, bukan hanya tercipta dalam tataran teori, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Masyarakat harus dilatih untuk lebih menghargai perbedaan, saling memahami, serta saling membantu satu sama lain, baik dalam konteks sosial, ekonomi, maupun budaya. Oleh karena itu, pendidikan tentang moderasi beragama dan toleransi harus dimulai sejak dini, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
- Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), juga menekankan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap menghargai pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat. “Moderasi beragama berarti mengembangkan sikap yang tidak mudah terprovokasi oleh paham-paham ekstrem, dan mampu berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk menciptakan kedamaian,” kata Said Aqil.
Menurutnya, kebersamaan dalam masyarakat Indonesia yang plural ini harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati antar pemeluk agama, sekaligus menjaga ruang untuk dialog antar umat beragama yang semakin terbuka. Sebagai negara dengan lebih dari 6 agama yang diakui, Indonesia membutuhkan komitmen bersama dari semua elemen bangsa untuk tidak hanya saling toleran, tetapi juga saling menjaga dan memperkuat persatuan. “Kebersamaan ini tercipta apabila umat beragama memandang perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai sumber konflik,” lanjutnya.
Seiring dengan berkembangnya zaman, Indonesia harus mampu mengelola keberagaman agama sebagai kekuatan yang membangun, bukan sebagai sumber perpecahan. Prof. KH. A. Mustofa Bisri, salah seorang ulama besar, juga menekankan pentingnya moderasi beragama dalam konteks membangun masyarakat yang adil dan makmur. Menurut Gus Mus, “Indonesia akan terus maju jika umat beragama mampu bersatu dalam semangat moderasi, tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan sempit, dan lebih mengutamakan kepentingan bersama.”
Dalam hal ini, kebersamaan dalam moderasi beragama bukanlah sekadar sikap toleransi pasif, tetapi sebuah komitmen aktif untuk menciptakan masyarakat yang inklusif, di mana semua agama dapat hidup berdampingan dengan damai. Itulah mengapa, dalam pandangan banyak tokoh, moderasi beragama menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan visi Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera.
Kebersamaan dalam moderasi beragama bukan hanya tentang penerimaan terhadap perbedaan, tetapi juga tentang menciptakan ruang dialog, saling belajar, dan saling mendukung di antara umat beragama. Seperti yang diajarkan oleh tokoh-tokoh nasional, Jokowi, Said Aqil Siradj, dan Gus Mus, Indonesia harus tetap teguh pada prinsip moderasi beragama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan bersatu. Di tengah segala tantangan, moderasi beragama adalah jalan yang membawa bangsa ini menuju kedamaian, kebersamaan, dan kemajuan yang lebih baik.